Pesona Yang Tak Pernah Lekang Dari Curug Genting

Sebagai “wong mbatang” atau orang yang tinggal di Kabupaten Batang siapa yang tak tahu tentang pesona Curug Genting. Setelah sekian lama dilanda rasa penasaran tentang Curug Genting dan hanya tahu dari cerita orang-orang serta hanya melihat keindahannya lewat potret foto saja, akhirnya untuk pertama kalinya saya bisa pergi kesana. Tak sendiri tentunya saya, hehe… karena saya bersama “partner” yang kebetulan katanya pengen foto ootd, hahaha… Kami berangkat sekitar jam 11 lebih menaikki si merah dengan ditemani terik matahari disepanjang perjalanan sebelum akhirnya mendung mulai datang sesampainya kami di Blado. Kami sempat berhenti sebentar di apotek untuk membeli air mineral dan kemudian kupacu lagi si merah untuk melanjutkan perjalanan. Karena kami sama-sama baru pertama kali  ke Curug Genting jadi sempat bingung dengan rute yang akan kami lewati, kami mengikuti petunjuk arah yang terpasang dipinggir jalan dan disetiap persimpangan. Sampai akhirnya kami bingung dan berhenti dipertigaan karena tak ada petunjuk arah lagi yang akhirnya membuat kami mengggunakan gps seperti biasa, yaitu “gunakan penduduk setempat”. Setelah diberitahu arah yang benar kami pun melanjutkan lagi perjalanan sampai akhirnya kami memasuki perkampungan terakhir dan kemudian memasuki hutan pinus. Kondisi jalan diperkampungan yang sebelumnya beraspal kini mulai beralih menjadi bebatuan dan aspal yang sudah mengelupas setelah memasuki hutan pinus.

jalan ditengah hutan pinus ketika berangkat

Curug Genting sendiri terletak di Desa Bawang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Berada di petak 49º Hutan Lindung Tertutup (HLT), RPH Kembanglangit, BPKH Bandar. Kawasan hutan yang sangat asri dan masih terdapat berbagai macam hewan liar seperti saat kami melewati hutan pinus terlihat burung Elang Bido yang nampak terbang rendah diatas rindangnya pepohonan pinus, pemandangan dan suasana yang mengasyikkan berada ditempat seperti ini. Sesekali saya menarik nafas panjang sembari tetap memacu motor agar tetap berada dijalurnya. Akhirnya pun kita sampai ditempat pemberhentian untuk membayar karcis masuk. Tempat pemberhentian karcis ini berada dibelokan sebelum jalan lurus yang naik turun sebelum sampai ke curug. Hanya dengan uang lima ribu rupiah perorang kita bisa menikmati keindahan alam yang begitu indah ini. Karena kami hanya berdua jadi kami membayar sepuluh ribu rupiah, setelah membayar, mas-mas petugas karcis menyarankan setelah dari curug mampir ke gardu pandang yang berada tepat dipemberhentian karcis. Kamipun mengiyakan saran dari mas-mas tersebut karena katanya view nya bagus dan memang terlihat masih baru serta ada beberapa orang juga sedang melakukan kerja bakti ditempat tersebut.

Gapura Batara Kala

Kami pun melanjutkan perjalanan yang sudah tak jauh lagi untuk menuju curug, sampai akhirnya kami sampai dikawasan curug. Kami diarahkan ketempat parkir oleh seorang bapak-bapak berbadan gempal dengan senyum ramahnya. Nampak juga para pemuda sedang melakukan kerja bakti disebelah tempat saya parkir. Selesai memarkirkan motor saya bertanya kepada beliau. “Itu mau dibuat apa pak?” tanyaku, “Mau dibuat wc itu mas” jawab beliau. Kemudian beliau pun mengarahkan ke jalan masuk curug. Kami berdua pun berjalan menaiki anak tangga yang tak terlalu tinggi. Terdapat pula warung kopi yang berada di pinggir anak tangga dekat pintu masuk ke curug. Akhirnya kami sampai dipintu masuk ke curug, pintu masuk yang berupa gapura berwujud Batara Kala, tepat dipelipisnya terdapat aksara jawa yang bertuliskan “Wening Manjing Gapuro Tunggap”, tepat di depan persis gapura sebalah kanan dari arah saya melihat sebelum masuk terdapat pula satu patung Gupala. Wah semakin membuat saya penasaran dengan gapura yang menjadi pintu masuk ke curug tersebut. Kami pun masuk melewati gapura dan menuju kearah gardu pandang terlebih dahulu yang berada tak jauh setelah masuk melewati gapura.

nampak dari gardu pandang

ootd mbaknya

Dari atas gardu pandang kita bisa melihat curug yang dikelilingi rimbunnya pepohonan dan hutan yang lebat. Kami pun memtutuskan untuk tak turun kebawah karena view dan spot dari atas sudah cukup bagus, atau mungkin sebenarnya view dari bawah malah lebih bagus. Tapi karena memang sebelumnya hanya kami berdua saja jadi kami mengurungkan niat untuk turun ke bawah, meski setelah itu terdapat satu rombongan yang hendak turun menuju ke curung. Jadi kami menikmati keindahan Curug Genting yang berada ditengah hutan ini dari gardu pandang saja sembari sesekali saya menekan tombol shutter kamera untuk mengambil gambar. Cukup lama kami berada digardu pandang hanya untuk menikmati keindahan hutan dan curug, mendengarkan kicauan burung dipepohonan serta derau guyuran dari curug. Ah…enaknya, pikirku sudah lama sekali tak menikmati suasana seperti ini, apalagi sekarang tak sendiri menikmatinya, muehehe… Tak hanya satu gardu pandang yang ada di kawasan Curug Genting ini, terdapat pula gardu pandang yang lain serta terdapat pula pondok untuk berteduh.

tertutup ranting

nampak dari gardu pandang

Duduk berdua diatas gardu pandang dibawah rindangnya pohon serta menarik nafas panjang. Diam dan hening terasa ketika memandangi lebatnya hutan yang ternyata membuat kami lupa waktu, karena tak terasa sudah satu jam lebih kami berada diatas gardu pandang. Kami pun memutuskan untuk pulang, berjalan keluar melewati mulut Batara Kala yang menganga. Kemudian berjalan menuruni anak tangga sambil membawa rasa penasaran tentang kenapa gapura pintu masuk ke curug berupa Batara Kala dengan mulut yang menganga? Apakah arti dari tulisan dipelipis Batara Kala? Tentang kenapa Patung Gupala tepat berada didepan gapura? Serta sejak kapan gapura itu dibuat? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang membuatku penasaran. Sejak rasa penasaran itu muncul saya berniat untuk bertanya kepada bapak-bapak yang tadi mengarahkan kami saat memarkirkan motor, tetapi beliau masih terlihat sibuk dengan cangkul yang digenggamnya, maka saya urungkan niat tersebut.

anak tangga

warkop

Saat berjalan menuruni anak tangga langkah kami terhenti didepan warung kopi. Tidak untuk ngopi awalnya karena saya bertanya kepada ibu-ibu penjual kopi. “Buk, sudah sejak kapan ya dibangun gardu pandang?”… “Sudah sejak Desember tahun lalu mas” jawabnya, sembari saya berjalan dan duduk diwarung ibu tersebut dan akhirnya kami pun memesan dua gelas kopi panas. Kami pun ngobrol panjang lebar dan saya sendiri lebih banyak bertanya dengan ibu penjual kopi tentang Curug Genting. Tetapi, rasa penasaran saya masih tetap terpendam karena ibu tersebut tak begitu tahu tentang pertanyaan-pertanyaan yang saya tanyakan. Curug Genting ini dulu sangat ramai pengunjung apalagi diwaktu libur, akan tetapi sempat ditutup dan terbengkalai karena tak ada yang mengelola lagi. Sampai akhirnya sejak Desember tahun lalu dengan inisiatif para pemuda desa, Curug Genting kembali dikelola lagi dan bahkan dibuat menjadi lebih indah dari sebelumnya dengan membuat beberapa gardu pandang serta tanaman-tanaman hias yang ditanam disekitaran gardu pandang tersebut. Yang terbaru, mereka sedang membuat WC untuk kemudahan para pengunjung yang datang. Para pengelola juga bekerja sama dengan perhutani untuk urusan karcis karena memang Curug Genting ini masih terletak dikawasan hutan lindung. “Eman-eman mas mpun disediani curug nek mboten dimanfaatkno” ucap ibu disela-sela obrolan kami, saya pun tersenyum, mengiyakan dan sependapat dengan beliau. Memang benar kata beliau, sayang jika sudah disediakan tapi tidak dimanfaatkan, apalagi yang menyediakan itu Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Sudah seharusnya kita memanfaatkan dan menjaganya. Ah… obrolan yang menyenangkan sampai tak terasa tinggal sisa ampas ketika saya ingin kembali menyeruput kopi digelas. Obrolan pun berakhir seiring ampas kopi yang semakin memekat didasar gelas. Tak lupa kami membayar kopi yang telah kami minum dan kami pun pamit untuk pulang. Kami kembali menuruni beberapa anak tangga sebelum akhirnya sampai ditempat parkir motor dan kembali memacu motor untuk perjalanan pulang.

kerja bakti

Oh ya, sekalian perjalanan pulang kami mampir terlebih dahulu ke gardu pandang yang terletak dipemberhentian karcis. Terlihat gardu pandang yang masih terbilang belum lama dibuat serta tak nampak pengunjung lain kecuali beberapa mas-mas pengelola yang sedang bekerja bakti. Kami pun mencoba menaiki gardu pandang yang tersedia untuk menikmati pemandangan yang ada. Memang benar apa kata mas-mas tadi sewaktu saya bayar karcis masuk, view nya begitu indah. Wah dari sini cocok nih untuk menikmati sunrise dan sunset, bahkan kemcer juga asyik sepertinya disini, gumamku. Waktu kembali tak terasa. Setelah dirasa cukup menekan tombol shutter dan menikmati pemandangan dari atas gardu pandang, kami pun memutuskan untuk pulang, kembali melewati apa yang telah kami lewati sebelumnya, berjalan ditengah-tengah rindangnya pepohonan pinus.

gardu pandang dipemberhentian karcis

gardu pandang dipemberhentian karcis

bakar rumput

Jalan ditengah hutan pinus ketika pulang

Semoga waktu bisa menuntunku kembali kesana, dengan rasa penasaran yang semoga pula berujung lega. Sampai jumpa dilain waktu, tetap jaga kebersihan dan makan teratur agar tetap sehat. Yuk Gerak Yuk.

Advertisements

2 thoughts on “Pesona Yang Tak Pernah Lekang Dari Curug Genting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s