Dua Malam Tiga Pantai (Part #1)

Berangkaaat.!

Berangkaaat.!

Latepost, tapi tanpa hastag, karena memang ini kemping beberapa bulan yang lalu. Tak seperti yang dulu-dulu, kali ini dengan rencana yang bisa dibilang matang karena sudah direncankan jauh-jauh hari sebelumnya. Untuk personil pun kali ini lebih dari biasanya, karena ada beberapa teman yang ikut. Tetapi tidak untuk si Kendy yang tak bisa ikut karena mudik ke kampung halamannya. Saat semuanya siap untuk berangkat esok hari, tiba-tiba si Diska tidak jadi ikut. Akhirnya saya sendiri dan 3 teman lainnya yaitu ikhsan, pilar dan ica yang berangkat. Tapi rasanya masih kurang ramai untuk kemping kali ini. Saya pun mengajak si Jalu dan Melda untuk berangkaaat.

Hari H pun telah tiba, semua perkap dan logistik pun telah siap. Kami berangkat dan meninggalkan Jogja sekitar jam 3 sore. Sore itu masih terasa terik dan jalanan begitu padat, yang terpikirkan hanyalah cepat sampai ditempat tujuan, sejenak menghindar dari hiruk pikuk dan bisingnya kota, sebelum akhirnya semua itu buyar ketika saya teringat “apakah kompor sudah kami bawa?”, saya pun berhenti dan menanyakan ke anak-anak lain apakah kompor sudah dibawa dan jawaban mereka semua “tidak tahu”, fix… kompornya ketinggalan. Saya pun berbalik arah kembali ke kos untuk mengambil kompor, sementara yang lain menunggu disebuah pom bensin. Dan benar saja setelah sampai dikos, saya memanggil si Diska untuk mengambilkan kompor yang berada didepan kamar. Setelah kompor masuk tas, segeralah saya meluncur kembali karena hari sudah terlalu sore.

Setelah hampir dua jam perjalanan kami pun sampai di Gunungkidul dan berhenti sejenak di pertigaan Tepus untuk beristirahat sejenak dan membeli nasi bungkus. Kami pun kemudian melanjutkan perjalanan menuju pantai, jalan menuju pantai yang awalnya bagus dan masih melewati rumah-rumah penduduk berubah menjadi jalanan berbatu naik turun dan jalanan tanah berlumpur dengan genangan air. Sesekali dari kami pun berjalan kaki, sampai-sampai sandal si Pilar putus saat melewati jalanan tanah yang becek penuh genangan air. Dengan hati-hati kami melewati jalan bebatuan yang licin, sampai akhirnya terdengar suara deru ombak.

Aahhh…. Akhirnya sampai juga, setelah memarkirkan sepeda motor kami bergegas mencari tempat untuk mendirikan tenda. Nampak sudah ada satu tenda dari pengunjung lain yang sudah berdiri. Setelah menemukan tempat yang dirasa pas untuk mendirikan tenda kami langsung membongkar carrier dan daypack untuk segera mendirikan tenda. Tak begitu lama tenda pun sudah berdiri dan kami beristirahat sejenak menikmati sepoi angin serta deru ombak setelah melakukan perjuangan untuk bisa sampai ke Pantai Ngetun ini.

Malam belum terlalu larut dan isi dalam perut mulai berdendang mengeluarkan bebunyian. Sementara kami para lelaki membuat bara api, para wanita mempersiapkan logistik untuk dimasak. Malam ini makan enak oiii…. Ayam, haha… Jarang-jarang ni kemping bakar ayam, bergizi. Setelah bara api jadi dan ayam selesai dilumuri bumbu sambal segeralah kami memanggangnya. Bau yang tercium dari daging ayam semakin membuat perut keroncongan. Tak begitu lama untuk menunggu ayam selesai dibakar kami pun segera memakannya bersama dengan nasi bungkus yang sudah kami beli sebelumnya. Selesai makan perut kenyang dan ngantuk pun datang, tapi terlalu sayang jika malam yang belum terlalu larut ini kami gunakan untuk tidur. Kami pun mengelilingi api unggun dan mengobrol ngalor ngidul sambil menyeduh kopi untuk menikmati malam itu.

Malam kian larut dan mata semakin berat, nampak si Iksan sudah mengeluarkan senjatanya dari dalam tenda dan berbaring diatas matras, sementara yang lain masih asik ngobrol sambil tiduran diatas matras, saya mulai memejamkan mata. Zztt…Krik..krik. Tak lama setelah memejamkan mata saya pun terbangun karena kedinginan, karena cuma mengenakan celana pendek segeralah saya masuk kedalam tenda, sedangkan yang lainnya tidur diluar tenda. hahaha.

Lagi Masak?

Lagi Masak?

Tak terasa pagi telah datang dan saya pun terbangun ketika sinar mentari masuk melalui celah-celah tenda. Segeralah saya keluar dari tenda karena yang lainnya juga sudah terbangun. Bau kopi sudah tercium, waktu yang pas dipagi hari untuk menyeduh kopi sembari menikmati indahnya pagi di 0 Mdpl. Sang surya terlihat mulai meninggi, air laut yang tampak surut serta aroma kopi yang mulai memudar hilang terbawa angin dan akhirnya, rasa lapar pun datang. Menu pagi ini adalah roti bakar yang siap mengganjal rasa lapar kami. Ketika rasa lapar hilang  teman-teman pun segera menceburkan diri ke air ditepian pantai untuk mandi dan bemain air.

Dari Bawah Pohon, adeem...

Dari Bawah Pohon, adeem…

Terhalau Pohon, adeem...

Terhalau Pohon, adeem…

Meteor Garden?

Meteor Garden?

Siang pun datang dan teriknya terasa menyengat dikulit kami, tapi teman-teman yang lainnya masih asik mandi air laut. Sedangkan saya mengabadikan moment yang mereka ciptakan serta berkeliling dan menaikki bukit yang berada di Pantai Ngetun. Setelah sang surya terasa sudah diatas kepala dan teman-teman yang tadinya mandi dipinggir pantai kini sudah berada dibawah pohon untuk berteduhdan beristirahat. Karena sorenya kita akan menuju ke pantai selanjutnya.

Mermaid Crew?

Mermaid Crew?

Nampak Bibir Pantai Dari Atas Bukit

Nampak Bibir Pantai Dari Atas Bukit

Advertisements

8 thoughts on “Dua Malam Tiga Pantai (Part #1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s