Rindu Yang Berbonus Puncak Part 2

Dingin masih membalut disekujur tubuh ketika terdengar suara dari luar tenda, “Sunrise tu.”  Nampaknya suara si Chepy, itu antara benar-benar sudah pagi atau Chepy yang sedang ngelindur. Lalu saya balas ucapnya dari dalam tenda sembari menggigil kedinginan, “Udah pagi po Chep?”. Semilir angin terasa membawa udara dingin yang mengitari sela-sela tubuh. “Udah” jawabnya, tapi terasa masih ngantuk dan enggan lepas dari pelukan hangat sleepingbag. Jadi saya putuskan untuk kembali memejamkan mata, nampaknya si Chepy juga tertidur lagi dan kawan-kawan belum juga ada yang bangun. Sebelum akhirnya bias cahaya mentari menembus sela-sela kecil tenda dan memberi kehangatan lebih yang membuat saya terbangun dan sesegera mungkin keluar dari tenda. Nampak keramaian para pendaki dipagi hari Pos 2 Gunung Merbabu. Karena kawan-kawan masih belum ada yang bangun, saya bangunkan satu persatu sampai akhirnya si Kendy, Chepy dan Sam terbagun, kecuali si Ikhsan yang masih terlihat pulas tidurnya. Selamat pagi kawan-kawan.

Ada yang bersembunyi :D

Ada yang bersembunyi 😀

Sudah jam delapan pagi, diantara kami yang sudah terbangun mulai bergerak menyusur kehangatan mentari, ada juga yang masih enggan lepas dari dekapan sleepingbag. Setelah dirasa cukup kami segera meramu kopi agar bisa ikut memberikan kehangatan dipagi yang dingin. Sampai akhirnya sesosok orang keluar dari dalam tenda dengan muka yang masih terlihat mengantuk, dengan langkah sempoyongan berjalan menuju arah kami. Sesosok orang tersebut adalah si Ikhsan. Hahaha. Akhirnya kopi siap disruput, dan kehangatan terasa menjalar ketubuh. Obrolan dan candaan kembali kami buka agar suasana tak ikut menjadi dingin. Saat mengobrol nampak si Tua tersapu dingin sendirian dipojok tenda dan saya mengambilnya agar suasana dan obrolan  menjadi lebih asyik.

Lihat mukanya :D

Lihat mukanya 😀

  Dan akhirnya perut pun bergenderang menyuarakan rasa lapar. Saatnya memasak, segala bahan dan peralatan masak  kami siapkan, tapi ada yang membuat kami tercengang. Yaitu minyak goreng yang semalam masih tersisa banyak kini tinggal sedikit karena tertumpah. Untungnya si Chepy juga membawa minyak goreng,  alhasil cukuplah untuk membuat sarapan. Setelah sarapan siap, kami pun makan bersama dengan menu seadanya pula. Meski seadanya namun lebih terasa enak karena dimakan bersama-sama.

Para Chef mau masak

Para Chef mau masak

Selesai makan, kami minum dan kembali mengobrol sembari menikmati suasana yang mulai terik. “Nanti motret ke sabana ya” Celetuk si Chepy. “Ayok” balasku dan beberapa teman lainya. “Ah, turun sajalah, nanti aku berangkat kerja” Sahut si Kendy. “Ijin saja ken, mumpung disini juga…. Wah lebih mentingin duit ni daripada temen sendiri” balas dari kami sambil tertawa. Ahahaha. Akhirnya si Kendy pun tidak ikut ke sabana. Nampak sudah jam dua belas siang lebih, kami memutuskan untuk packing dan bersih-bersih sampah kami. Jadinya si Chepy, Ikhsan dan saya yang lanjut naik ke sabana, sementara si Sam tidak ikut dan memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Sekitar jam dua kami bertiga bergegas naik, sedangkan si Kendy bergegas turun. “Hati-hati Ken” Ucap kami. “Iya, kalian hati-hati juga” balas si Kendy.

Tenda-tenda para pendaki

Tenda-tenda para pendaki

Track yang semakin menanjak membuat kami lebih berhati-hati. Dikarenakan beban yang kami bawa tak seberat semalam, jadinya hanya sesekali kami beristirahat sebelum akhirnya kami sampai dipertigaan yang merupakan pertemuan dari jalur Tekelan, Chuntel, Wekas dan sekaligus arah menuju Puncak Syarief dan Kenteng Songo. Disini kami beristirahat sembari memotret keindahan dari alam ini. Sambil mengobrol dengan pendaki lain yang juga sedang beristirahat dan sesekali bercanda, “Puncaknya mana?” Tanya si Ikhsan. “Itu San, sudah kelihatan kok. Gimana? Lanjut ke puncak po?” balasku. “Iya san, mau lanjut ke puncak atau turun. Aku sih manut” Sambar si Chepy. Nampak hening sementara dari si Ikhsan, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk lanjut ke puncak. Oke fix, akhirnya kami bertiga melanjutkan untuk naik ke puncak. Dari pertigaan menuju ke puncak jalur yang mulai curam dan lebih menanjak membuat kami sangat berhati-hati. Nampak para pendaki lain yang hendak turun, dengan hati-hatinya menapakkan kaki dibebatuan karena curam. Terlihat pula warna-warni dari tenda para pendaki yang berada di Pos 2 jalur Wekas. Awan serta bias cahaya kuning dari sang surya menambah keindahan pendakian kami ke puncak sore itu.

Nampak para pendaki kearah Pos Pemancar

Nampak para pendaki kearah Pos Pemancar

Nampak sesekali si Chepy mengeluarkan kamera dari tasnya untuk mengabadikan keindahan yang terlihat. Memang penampakan yang sangat indah disore itu, gumpalan awan tebal yang menyelimuti punggung-punggung bukit. Sebelum akhirnya kami sampai dipercabangan jalur antara Puncak Syarief dan Puncak Kenteng Songo. Karena sudah sore dan sebentar lagi gelap, akhirnya kami mengambil jalur kearah Puncak Syarief karena waktu yang tak memungkinkan jika ke Puncak Kenteng Songo. Sesampainya di Puncak Syarief terlihat Gunung Merapi yang nampak terselimuti awan tebal. Dan saat itu angin juga lumayan kencang di puncak. Si Chepy nampak sibuk dengan kameranya, sementara saya juga sibuk dengan kamera saya dan sibuk dengan si Ikhsan  yang minta difoto. Ternyata ada juga yang mendirikan tenda dan hendak bermalam di puncak, padahal anginya kencang. Kami pun sempat mengobrol sembari ikut menghangatkan tubuh didepan api unggun yang mereka buat. Tak ingin lama-lama berada di puncak karena hari menjelang gelap dan angin yang semakin kencang, kami pun memutuskan untuk kembali turun.

Tasnya couple haha

Tasnya couple haha

Burung Jalak yang berada di Puncak Syarief

Burung Jalak yang berada di Puncak Syarief

Gradasi langit serta siluet bukit-bukit dan pepohonan nampak menjadi teman kami diperjalanan turun. Dengan hati-hati kami melewati jalur dan bebatuan yang curam, terlebih gelap sudah menjelang. Sesampainya dipertigaan kami sempat bertemu dengan para pendaki yang nampaknya akan bermalam di Pos Pemancar dan menanyakan sumber air terdekat, karena terlihat mereka kehabisan air. “Sumber air terdekat pipa bocor ada di Pos 2 jalur Wekas mas, harus turun dulu” Ucap kami. Yang akhirnya kami memberikan sebagian air minum yang kami bawa sebagai bekal kepada mereka. Kami pun melanjutkan turun kembali ke Pos 2, nampak para pendaki lain yang silih berganti berpapasan dengan kami disepanjang perjalanan turun ke Pos 2. Jalur yang lumayan curam serta hutan yang masih rimbun membuat kami lebih berhati-hati. Nampak terdengar dari kejahuan suara riuh para pendaki yang berada di Pos 2, berarti sebentar lagi sampai. Dan akhirnya kami pun sampai di Pos 2 dan langsung menuju tenda kami. Si Sam nampak berada didalam tenda, dan lalu keluar karena mendengar kedatangan kami. “Ini aku buatin mie, kalian makan… mie terakhir ini” Ucap si Sam. Berhubung rasa lapar memang sudah mendera kami bertiga, kami pun makan bersama. Karena keadaan yang kurang memungkinkan, dan tidak ingin mengambil resiko akhirnya kami memutuskan untuk turun besok dan bermalam lagi di Pos 2. “Eh masih ada sisa logostik nggak?” sahutku. “Masih ada sisa tempe, buat sarapan kita besok.” Balas si Sam. “Berarti kita nyari minyak goreng ke pendaki lain, minta tolong.” Ucap si Chepy. Dan saya pun pergi ketenda-tenda para pendaki lain untuk meminta sedikit minyak goreng, sampai akhirnya ada mas-mas pendaki dari Kopeng yang mau memberikan sedikit minyak gorengya kepada kami. “Syukurlah, akhirnya dapat juga. Hahaha.” Ucapku sesampainya ditenda kami. Malam yang semakin gelap, serta dingin yang kian menjadi membuat kami kedinginan. Si Chepy pun pergi mencari dahan-dahan dan batang kayu yang sudah mengering untuk membuat api unggun. Api unggun pun kami buat untuk mengurangi rasa dingin yang membalut badan dan agar memberi rasa hangat pada tubuh kami. Melingkari api unggun dan mengobrol santai sambil meminum kopi hal yang kami lakukan malam itu. Tiba-tiba ada seorang pendaki perempuan yang minta tolong untuk memasangkan gas ke kompor kepada kami. Kami semua sempat bekenalan tapi saya lupa namanya. Si Sam yang coba membantu memasangkan gas ke kompor nampak kebingungan karena kelihatanya gasnya bocor. Yang ternyata kompor milik mbak-mbaknya yang bermasalah. Alhasil kami pinjami kompor milik kami, karena mbak-mbaknya tak membawa kompor lain. Kini giliran si Sam yang pergi untuk mencari kayu bakar agar api tetap menyala. Sedangkan si Chepy mengeluarkan kamera dan tripodnya untuk mengabadikan milky way. Semakin malam malah semakin ramai para pendaki yang hendak ke puncak tengah malam maupun pendaki yang baru sampai di Pos 2. Apinya mulai meredup sebelum akhirnya si Sam datang membawa ranting-ranting pohon. Kembali menyala, kembali hangat yang kami rasakan. Si Chepy pun nampak tak bersuara lagi dan sudah berbalut sleepingbag disamping api unggun. Saya dan Ikhsan pun memutuskan untuk pergi mencari kayu bakar sedangkan si Sam tetap menjaga si Chepy yang tertidur. Cieee…. Hahaha. Saya dan Ikhsan berjalan melewati tenda-tenda para pendaki lain, nampak pula ada yang bersorak-sorak yang ternyata mereka sedang menonton sepak bola. Wah gilaa… ke gunung bawa tv? Bukan tv, ternyata mereka menonton bola lewat handphone. Wkwkwkwk. Kami berdua memasuki rimbun pepohonan dan membawa cukup banyak ranting-ranting dan kayu bakar. Sesampainya ke perapian, kami memotong kecil-kecil kayu bakar yang kami dapat dan meletakkanya ke api unggun.  Malam yang semakin larut, membuat si Sam pergi kedalam tenda karena kedinginan dan beranjak untuk tidur. Sisa saya dan Ikhsan yang masih didepan perapian sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berbalut sleepingbag dan tertidur. Berarti tinggal saya sendiri, karena tak ada lagi teman bicara saya pun memutuskan untuk tidur. Malam itu si Sam dan Iksan tidur didalam tenda, sedangkan si Chepy dan saya tidur disamping api unggun. Hening pun datang. ZZzzzztt…. Beberapa jam kemudian saya terbangun. Saya kira pagi sudah datang, ternyata masih gelap karena masih jam empat pagi. Tapi si Chepy sudah terbangun juga, malahan dia sedang menghisap tembakau. Alhasil kami berdua tak bisa tidur lagi. Si Chepy menyeduh kopi, saya menghangatkan badan didekat api unggun. Kami mengobrol ngalor ngidul sampai akhirnya pagi menjelang. Tapi kami masih enggan beranjak dari depan api unggun, karena memang dingin yang masih terasa sedangkan sang surya masih belum memberi kehangatanya. Dua orang pendaki menghampiri kami berdua, mereka nampak kedinginan dan ikut menghangatkan badan didepan api unggun yang kami buat. Obrolan santai dan selingan kopi ditambah asap tembakau mengiringi sang surya yang perlahan naik dan mulai memberikan kehangatanya. Tak begitu lama pun si Sam dan Ikhsan terbangun dari tidurnya dan beranjak keluar dari tenda menuju depan perapian bersama kami.

Si Sam, Ikhsan dan dua teman pendaki lain

Si Sam, Ikhsan dan dua teman pendaki lain

Tak terasa sudah jam setengah delapan pagi, setelah saya menyempatkan untuk memotret moment-moment yang terjadi kala pagi itu di Pos 2. Nampak pula si Chepy yang membongkar dry box nya dan mengeluarkan kamera yang katanya mau motret macro. Hmmm pasti targetnya belalang-belalang yang sedang bercumbu. Selesai itu kami pun membuat sarapan, menggoreng tempe yang masih tersisa. Lumayan untuk mengganjal perut kami berempat, ditambah dengan menyeduh kopi pula.

Breakfast

Breakfast

Setelah kami selesai melahap tempe goreng, kami memulai untuk membersihkan peralatan masak dan mulai packing barang-barang serta peralatan. Sebelum sang surya mulai meninggi kami memutuskan untuk turun, tak lupa kami berdo’a dan juga membawa turun sampah-sampah kami. Diperjalan turun kami banyak menjumpai para pendaki yang hendak naik. Saya pun sempat terpisah jauh dengan Sam, Ikhsan dan Chepy yang berada dibelakang saya. Selepas melewati Pos 1 saya berhenti untuk beristirahat sembari menunggu mereka bertiga. Rasa dahaga sirna setelah si Ikhsan datang dan membawa sebotol minuman. Kami berdua pun lumayan lama beristirahat sambil menunggu si Sam dengan Chepy. Akan tetapi akhirnya kami memutuskan untuk turun terlebih dahulu.

Barisan pohon pinus

Barisan pohon pinus

Sesampainya di basecamp saya beristirahat, tapi si Ikhsan yang tadinya dibelakang saya belum sampai. Setelah melepas kedua sepatu akhirnya si Ikhsan sampai di basecamp. “Kok lama san? Bukanya tadi kamu pas dibelakangku?” tanyaku. Dengan nafas yang masih terengah-engah Ikhsan menjawab, “Kesasar aku, pas mulai masuk perkampungan malah bingung jalanya.” Ternyata si Ikhsan kesasar pas sampai perkampungan. “hahaha…. Oalah, si Chepy sama Sam belum kelihatan po San?” balasku. “Nggak kelihatan mereka.” Jawab si Ikhsan. Akhirnya si Sam sampai di basecamp dan tak lama kemudian Chepy pun sampai. “Gila ditinggal, kami nggak bawa air minum, untung tadi minta mas-mas.” Ucap si Chepy dengan nafas naga, eh nafas terengah-engah maksutnya. “Wah, aku kira diantara kalian berdua bawa air minum Chep.” Jawabku. “Enggaklah, kan airnya dibawa si Ikhsan.” Balas Chepy. Sampai di basecamp dengan selamat semua, syukurlah. Semoga selamat juga kami sampai rumah masing-masing. Setelah dirasa cukup kami beristirahat dengan makan dan menyeduh segelas teh hangat kami pun beranjak meninggalkan basecamp dilereng Gunung Merbabu tersebut untuk pulang.

Vandalism, jangan ditiru

Vandalism, jangan ditiru

Setiap pendakian maupun segala aktivitas yang dilakukan di alam selalu memberikan pelajaran akan berbagai hal. Dan kita harus selalu menjaganya, tak hanya menjaga alam itu sendiri tetapi kita juga harus menjaga makhluk hidup maupun fasilitas yang berada didalmanya. Terimakasih semesta, kami masih diberikesempatan untuk selalu bersyukur dan mengagumi keindahanmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s