Rindu Yang Berbonus Puncak Part I

Perjalanan Berangkaaat.! Kali ini tanpa partner saya yang satunya yaitu si Diska karena dia baru saja pulang menginvasi ibu kota bersama Kimpala sehari sebelum kami berangkat. Jadi tinggal saya dan si Kendi yang berangkat bersama teman-teman yang lain juga. Oke mari kita mulai, ini perjalanan tanggal 20 -22 Juni 2014 lalu.

Berawal ditempat kopi, saat saya dan kawan-kawan sedang berkumpul untuk sekedar sharing dan berbagi informasi. Sampai akhirnya terdengar suara “Tanggal 20 an sibuk nggak pak? Ke Merbabu yok… lagi malas di Kota, musim kampanye gini.” Ternyata itu suara dari mulut teman saya yang biasa dipanggil Chepy. “Ayok” jawaban singkat dari si Kendy disusul dengan sahut suara ku “Mangkaaaattt….”. “Siapa aja Chep?” tanyaku. “Siapa aja yang selo.” Jawab si Chepy. “Wah aku ke Bali mau KKL nggak bisa ikut.” Sahut mas Ghozali. Berhubung mas Ghozali tidak ikut, dia mau meminjami peralatan mendakinya.hehehe… Lumayan berarti tidak perlu menyewa ditempat penyewaan peralatan out door. Tinggal keperluan pribadi dan logistik saja. Wah pas banget nih, lagi kangen Merbabu juga. Ucapku dalam hati, soalnya terakhir saya mendaki Gunung Merbabu lebih dari setahun yang lalu. Oke fix, Saya, Kendy dan Chepy.

Singkat cerita, tiga hari sebelum hari H keberangkatan saya baru ingat kalau hari jum’at siang itu masih ada UAS. Setelah memberitahu si Kendy dan Chepy akhirnya kita berangkat dari Yogyakarta Jum’at sore jam empat setelah saya pulang dari kampus. Hehehe. Malam hari sebelum lusa berangkat saya meluncur ke kost-kostan mas Ghozali dengan berbekal ancer-ancer atau peta berbentuk tulisan yang diberikan olehnya saya memacu si Miau (nama motor saya). Tidak perlu waktu lama ternyata untuk sampai ke kostnya mas Ghozali. Sesuah sampai mas Ghozali mempersiapkan semua peralatan yang mau saya pinjam. Sembari ngobrol-ngobrol terlebih dahulu sampai dirasa cukup saya meluncur kembali untuk pulang.

Siangnya didepan kamar, saya dan Kendy mencatat barang-barang dan membersihkan tenda milik mas Ghozali karena terakhir dipakai buat camping di pantai jadi masih ada sisa-sisa pasirnya. “Besok temenku ikut satu orang.” Ucap si Kendy. “Oke berarti jadinya empat orang ya.” Balasku. Sebelum akhirnya tambah satu awak lagi buat keberangkatan besok sore. Si Iksan namanya, yang datang ke kamar saya saat saya dan Kendy sibuk mempersiapkan peralatan untuk besok. “Mau kemana kalian?” Tanya si Iksan. “Mau ke Merbabu besok, mau ikut kau? Balasku. “ikutlah” balasnya lagi. Lalu si Kendy merobek secarik kertas dan menuliskan beberapa peralatan yang harus dibawa kepada si Iksan. Baru pertama kali ini soalnya dia mendaki gunung, sekalian didiksar berarti. Hahaha.

Besok siangnya sebelum sore nanti berangkat saya pergi ke minimarket untuk membeli logistik. Karena si Kendy sudah membeli logistik terlebih dahulu. Seusai membeli logistik saya mengantar si Iksan ke tempat penyewaan out door untuk menyewa peralatan. Setelah dari tempat penyewaan saya pulang ke kost untuk membangunkan si Kendy dan melakukan packing. Sementara itu si Iksan pergi membeli logistik. Selesai packing si Kendy pergi ketempat kawanya untuk mengambil head lamp sekalian menjemput kawanya, namanya Sam, iya si Sam. Oke giliran saya dan si Iksan pergi ke kampus untuk mengikuti ujian akhir semesester atau UAS (ceritanya mahasiswa), sembari menunggu si Chepy yang sedang mengambil cable reales untuk tiba di kost.

Sepulang dari kampus langsung ganti baju untuk siap berangkat. Tetapi si Chepy belum juga datang, yang ternyata terjadi miss communication dengan si Kendy. Dikiranya kumpul di tempat kost Kendy yang lama. Hahaha. Alhasil saya harus menjemput si Chepy yang menunggu di Terminal Concat karena dia belum tahu tempat kost saya dan si Kendy yang sekarang. Setelah semua kumpul kami mengecek lagi barang bawaan lalu segeralah kami berangkat karena jam sudah menunjukkan empat sore. Kami memilih untuk lewat Kopeng. Kami sempat berhenti karena hujan deras dan kami pun berteduh sebentar. Sementara itu si Sam tidak berhenti karena sudah memakai jas hujan. Ketika hujan dirasa lumayan reda kami berempat langsung tancap gas untuk melanjutkan perjalanan lagi. Ternyata si Sam sudah sampai di gapura pertama sebelum masuk ke jalan arah basecamp. Jalan sesudah masuk gapura pertama sedang dalam perbaikan dan kami pun sangat berhati-hati untuk melintasi jalan terebut. Setelah memacu kendaraan di jalan bebatuan dan tanjakan meski dibeberapa tanjakan salah satu dari kami yang berboncengan harus turun karena motor tak sanggup dipaksa menanjak. Kecuali si Sam yang hanya berboncengan dengan tas carrier.

Sekitar jam setengah delapan malam kami sampai di loket retribusi kami bembayar dan mencatat data diri masing-masing. Setelah setahun lebih lamanya, ada perubahan basecamp Merbabu. Tempat parkir yang dulu tidak disatu tempat sekarang dijadikan satu tempat. Setelah urusan retribusi dan parkir selesai kita pergi ke basecamp untuk istirahat dan makan sebelum berangkat mendaki. Di basecamp ternyata sudah ramai orang yang hendak pergi mendaki. Kami memilih ke belakang, tepatnya ke depan tungku perapian untuk menghangatkan badan yang kedinginan.

Dari kiri Sam, Iksan, Nanda dan mas basecamp dibelakang

Dari kiri Sam, Iksan, Saya dan mas basecamp serta simbah dibelakang

Sembari menunggu makanan yang sedang dimasak, kami berbincang-bincang dengan para pendaki lain yang juga berada didepan perapian dan dengan tujuan yag sama pula yaitu untuk menghangatkan badan. Disinilah keakraban menambah hangatnya badan meski kami baru saja saling kenal atapun bahkan tak saling kenal. Sampai akhirnya waktu makan tiba, kamipun makan untuk menambah energi yang tadi sempat terkuras diperjalanan. Nampak para pendaki lain yang sudah mulai berangkat untuk mendaki atapun para pendaki yang baru saja sampai di basecamp. Selesai makan, ternyata si Sam malah nambah lagi makannya.

Mas basecamp melirik para pendaki yang baru datang semenara si Nanda asyik ngbobrol dengan kakek dan mas pendaki dari Padang

Mas basecamp melirik para pendaki yang baru datang sementara Saya asyik ngbobrol dengan simbah dan mas pendaki dari Padang

Setelah selesai mengisi perut dan energi kami bersiap-siap untuk mulai mendaki. Mengingat waktu juga sudah menunjukkan jam setengah sepuluh malam. Kami berjalan santai dengan si Sam yang menjadi leader dan Chepy jadi sweaper. Tiup lirih angin dan semerbak udara dingin tak lekang menemani setiap langkah kami. Saat langkah tak lagi sanggup kamipun beristirahat, sampai akhinya si Sam perutnya mules. Mungkin karena tadi pas makan di basecam dia makanya nambah ya. Kami pun akhirnya lebih sering berhenti karena keadaan si leader yang perutnya bermasalah. “Kalau capek istirahat aja, santai tujuan kita nggak puncak kok tapi rumah” ucap si sweaper alias si Chepy, hahaha. Nampaknya diatas sangat ramai oleh suara-suara riuh teriakan para pendaki yang sudah mendahului kita. Setelah dirasa cukup istirahatnya kami pun segera melajutkan lagi, nampak jarak antara si Sam, Iksan, dan Kendy dengan saya dan Chepy yang berada dibelakang terasa jauh karena si Chepy juga mulai bermasalah dengan perut atau apanya itu, lupa sepertinya saya.hehe. Sesudah berjalan dan terus melangkah, didepan si Sam, Iksan, dan Kendy sudah menunggu saya dan Chepy. Sekarang saya yang menjadi leader dan kami kembali melangkahkan kaki. Karena Pos 2 sudah tak jauh lagi, saya, si Sam dan Iksan bergegas untuk sampai di Pos 2 karena takutnya sudah tidak ada tempat untuk mendirikan tenda. Sementara si Kendy dengan Chepy berada jauh dibelakang kami. Sampai akhinya sampailah kami bertiga di Pos 2 sekitar jam satu tengah malam dan langsung mencari tempat yang kosong untuk kami mendirikan tenda.

Nampak dibawah pohon tempat terakhir saya mendirikan tenda disana dulu masih kosong. Segeralah kami menuju kesana untuk istirahat terlebih dahulu sambil menunggu si Kendy dan Chepy datang. Sesudah mereka berdua datang beristirahat sejenak, lalulah kami mendirikan tenda dan sesegera mungkin memasak kopi untuk menghangatkan badan. Tenda sudah berdiri, barang-barang bawaan sudah didalam tenda semua kecuali peralaataan masak dan sebagian logistik. Sekarang adalah waktunya menghangatkan tubuh, dibukanyalah si Tua oleh Kendy dan kami sesegeranya membentuk lingkaran kecil. Satu putaran demi putaran semakin mengurangi udara dingin yang menghujam kami. Sembari menikmati tiap putaran, saya membuat cemilan yaitu tempe goreng untuk teman si Tua.

Si Kendy dengban si Tua didepanya

Si Kendy dengan si Tua didepanya

Seiring malam semakin memuncak dan dingin yang malah tambah menusuk kulit satu persatu dari kami memakai sleeping bag dan mulai memasuki alam bawah sadarnya alias tidur. Sisa saya, Kendy, dan Chepy yang masih diluar tenda. Tak lama berselang seusai si Chepy memakai sleeping bag tak terengar lagi suaranya. “Chep, tidur dalam tenda saja.” Ucapku. “Aku tidur disini saja.” Balasnya. Wah gila ni anak, kulit badak mungkin, dingin banget kayak gini malah tidur diluar. Ucapku dalam hati. Yah, tinggal saya dengan si Kendy. Kami masih melanjutkan putaran sampai akhirnya si Kendy juga memutuskan untuk tidur. Wah, sudah tidur semua anak-anak. Akhirnya saya pun masuk kedalam tenda untuk memakai sleeping bag juga. Berlalulah malam pertama di Pos 2 Gunung Merbabu via Wekas ketika hening dari kami berlima terasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s