Kabut Dari Kebun Buah Mangunan

Tanganya si Diska

Tanganya si Diska

Sebenarnya ini perjalanan Berangkaaat.! yang sudah lumayan lama tepatnya tanggal dua puluh empat bulan mei kemarin, tapi baru bisa diposting sekarang. Hehehe maklum karena kemarin-kemarin keyboard saya rusak jadi tidak bisa untuk mengetik. Yasudah silahkan menikmati saja :).

Sudah jam dua belas malam, tapi mata tak mau diajak kompromi untuk memejam. Bengong dikamar, mainan hp pintar, semakin bosan. Sampai akhirnya terdengar suara “Pengen ke Kebun Buah e” lewat didepan pintu kamarku, ternyata si Diska. Haha… “ayok prop berangkat” sahutku. Berhubung saya juga belum pernah kesana juga kan, yeey… akhirnya Berangkat.! Bisa jalan-jalan lagi. “Nanti berangkat sekitar jam setengah empat ya prop, aku tak tidur bentar ntar bangunin” ucapku pada si Diska. Singkat cerita sudah jam tiga pagi Diska membangunkanku dari tidur, padahal sedang mimpi perang. Hahaha… Siap-siap mandi dulu biar ngantuknya hilang. Selesai mandi ngeteh dulu sambil ngobrol sama si Diska. Sesudah siap untuk berangkat munculah si Kendi yang baru pulang dari tempat kerja atau entah darimana. Sayang dia nggak ikut dengan berbagai alas an, hahaha… tapi tidak apa-apa kami dikasih bekal satu bungkus kacang rasa-rasa sama si Kendi, hehe.

Itu siapa yang mojok disemak?

Itu siapa yang mojok disemak? Diska?

Berangkat.! Kamipun berangkat dengan menunggangi orang ketiga (Motor maksutnya) wekekeke. Gerimis terasa rintik-rintik saat kami memasuki Ring Road, tapi tak apalah kita terjang saja. Ternyata cuma gerimis yang numpang lewat saja, syukurlah. Sampai kita berhenti di SPBU dulu untuk mengisi bahan bakar. Seusai mengisi bahan bakar kita melanjutkan perjalanan kearah selatan. Sepanjang jalan kita ngobrol ngalor ngidul biar mata tidak tiba-tiba memejam, karena meman saja hanya baru tidur sekitar satu jam, dan si Diska belum tidur sama sekali. Pagi-pagi buta yang lumayan dingin waktu itu tetap menemani kami sepanjang jalan.

Sesampainya memasuki Imogiri si Diska bertanya “Kamu tahu jalanya nggak nda?”. “Nggak tahu aku prop, baru pertama kali ini mau kesana.” Sahutku. Dan alhasil kita berhenti dipertigaan karena kebingunan tidak tahu jalanya. Clingak-clinguk tidak ada orang sama sekali selain kami berdua karena memang masih terlalu pagi untuk beraktifitas. Berarti tidak ada orang yang bisa kami tanyai untuk membantu memberi petunjuk jalan ke Kebun Buah Mangunan. Si Diska coba mengutak-atik hp pintarnya untuk bertanya jalan pada mbah gogel. Tidak ketemu juga, sampai akhirnya kami mengandalkan feeling saja. Kami mengambil arah lurus yang kami yakin itu jalan menuju ke Kebun Buah Mangunan.

Welcome

Welcome

Jalanan yang lumayan berkelok-kelok dan menanjak kami lewati. Dingin dan kabut yang menyerang kami lalui. Hahaha. Dan syukurlah ternyata kami tidak salah jalan, setelah memasuki perkampungan dan jalan yang menurun kami sampai juga di jalan masuk ke Kebun Buah. Sesudah sampai didepan gerbang dan loket masuk kami kembali dilanda kebingungan karena gerbangya tertutup dan kami tidak melihat adanya orang selain kami berdua. Kamipun berputar balik kembali menuju ke awal jalan masuk Kebun Buah untuk beristirahat sejenak. Sampai akhirnya ada seorang ibu-ibu yang sepertinya hendak mencari rumput. Sayapun bertanya ke ibu-ibu tersebut jalan masuk menuju gardu pandang di Kebun Buah Mangunan. Selesai bertanya dan diberitahu oleh ibu-ibu tersebut, kami kembali lagi menuju gerbang dan loket tadi. Akhirnya ada orang juga, yang kelihatanya itu seorang penjaga. Setelah dibukakan gerbang kami membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000,-/Orang, sudah termasuk parkir.

Papan tiket masuk

Papan tiket masuk

Penampakan lagi

Penampakan

Nampak masih sepi dan terlalu dingin pagi itu, kami menyusuri jalanan beraspal dan berbatuan yang berkelok dan menanjak. Sebaiknya berhati-hati bagi yang mau ke Kebun Buah Magunan diwaktu pagi-pagi buta karena jalanan yang sudah rusak, menanjak serta gelap. Sesudah sampai kami memarkirkan sepeda motor.

Jalan menuju gardu pandang maupun jalan keluar

Jalan menuju gardu pandang maupun jalan keluar

Oh ya saat memarkirkan kendaraan harap dikunci dan barang bawaan yang berharga lebih baik dibawa karena tidak ada tukang parkirnya.

Anak tangga menuju gardu pandang

Anak tangga menuju gardu pandang

Seusai melewati turunan anak tangga akhirnya kami sampai di Gardu Pandang. Wow… Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah pepohonan dan bukit-bukit yang masih terselimuti kabut. Kami menikmati sejuknya udara pagi dan indahnya semesta yang kami lihat dan rasakan. Keindahan seperti ini sayang kalau tidak diabadikan lewat kamera.

Pemandangan dari gardu pandang

Pemandangan dari gardu pandang

Setelah selesai mengambil beberapa gambar saya kembali duduk untuk kembali menikmati semua keindahan semesta ini.

Kabut menutupi aliran Sungai Oyo

Kabut menutupi aliran Sungai Oyo

Masih sepi, sebelum akhirnya riuh suara keramaian muncul dari atas menuju tempat kami duduk. Ketenangan dan keheningan yang kami rasakan secara tiba-tiba musnah. Obrolan dan teriakan yang terdengar dari segerombolan abg dengan membanggakan “Gear” yang mereka bawa. Ya memang gear yang mereka bawa terlihat pro karena hanya satu digit saja,hehe… meski mereka masih terlihat abg. Ya mau bagaimana lagi itu semua hak mereka. Hahaha. Kita masuk juga sama-sama bayar kok. Hahah.

riuh ramai

Riuh ramai

Motret sambil nungging part 1 :D

Motret sambil nungging part 1 😀

Motret sambil nungging part 2 :D

Motret sambil nungging part 2 😀

Dari atas gardu pandang kita juga bisa melihat perkampungan yang terletak dibawah bukit-bukit dan ditepian Sungai Oyo. Saat kabut pergi kita juga bisa melihat jembatan kuning dan aliran Sungai Oyo yang membentang jauh.

Kabut tipis di bukit

Kabut tipis di bukit

Perkampungan dibawah perbukitan tertutup kabut tipis

Perkampungan dibawah perbukitan tertutup kabut tipis

Siapa itu?

Siapa itu?

Wah semakin rame nih yang tadinya sepi, padahal sang fajar belum menampakkan sinarnya. Dinginpun masih terasa menusuk-nusuk meski jaket sudah terpasang dibadan. Sampai kehangatan itu terasa seusai sang fajar mulai menampakkan wujud dan sinarnya hingga memberi kehangatan pada kita semua.

Detik-detik munculnya sang fajar

Detik-detik munculnya sang fajar

Sang fajar mulai menampakkan diri

Sang fajar mulai menampakkan diri

Sayapun kembali mengabadikan keindahan semesta dngan kamera, sampai sang fajar yang mulai Nampak meninggi. Istirahat dulu sambil ngobrol ngalor ngidul sama si Diska. Dan tidak lupa kacang pemberian si Kendi menjadi teman yang terkunyah dan tertelan oleh kami disetiap obrolan pagi itu. Sampai dirasa kehangatan menjadi terasa panas kami memutuskan untuk beranjak menaiki anak tangga untuk pulang.

Anak tangga menuju parkiran

Anak tangga menuju parkiran

Kabutnya menyerupai sungai

Kabutnya menyerupai sungai

Terimakasih semesta kami masih diberi kesempatan untuk menikmati dan merasakan segala bentuk keindahanmu. 

Advertisements

3 thoughts on “Kabut Dari Kebun Buah Mangunan

  1. Buat saya, keberadaan pagar yang dibangun pengelola itu kurang sesuai, ya karena bakal susah buat fotografer untuk dapet framing fotonya, hahaha. Tapi ya faktor keselamatan sih ya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s