Menapakkan kaki di G.Sumbing

indahnya jalur menuju puncak

Indahnya jalur menuju puncak

Bermula dari obrolan iseng saat perkuliahan tepat pukul 10.00 WIB tanggal 10 april 2014 saya dan kawan kawan membicarakan hal tentang liburan dan bermula dari kata yang keluar dari mulut temanku sebut saja Kribo : “aku kangen naik Gunung” secara tidak langsung saya menanggapi perkataan teman saya itu dan saya pun langsung mengajukan sebuah ide yang muncul dari perkataan itu, “gimana kalau naik Gunung Sumbing” seketika semuanya diam, dan mereka menjawab “ tanggal berapa?” Waktu itu juga saya menjawab tanggal 26-27 gimana, dan semuanya masih pada bingung atas pertanyaan yang mungkin dibenak mereka sangat sulit, gimana tidak selain masih jauh hari waktu kita diskusi itu tanggal juga saat – saat menyiksa bagi kaum mahasiswa atau orang kantoran menyebutnya tanggal tua.

Setelah mereka bicarakan akhirnya tanggal 26-27 april 2014 kami tetapkan sebagai hari daki kami, dari planning yang kita bicarakan awalnya kami cuma berempat yaitu Ferry, Bray, Kribo dan saya sendiri, setelah beberapa hari menjelang eksekusi atas penjelajahan kami 4 teman kami serontak mendaftarkan diri dalam penjelajahan ini mereka adalah Amzah, Icha, Bambang, dan Arip.

Beberapa hari kemudian tepatnya 4 hari sebelum kami berangkat kami menyiapkan perabotan ala pendaki seperti caril, Sleeping bag, alat masak, tenda dan matras, kami pun kesana kemari mencari perabotan itu, ada yang sewalah pinjem ketemanlah. Dan waktu pun semakin dekat dengan hari (H) tepatnya (H-1) kami breefing dikampus menjelaskan jalur yang akan kita lewati, dan perlengkapan yang kita bawa setelah semuanya fix, jam 02.30 dini hari tanggal 26 april kami pun berkumpul di kos saya yang berada di Condongcatur untuk persiapan berangkat ke daerah Garung Kab.Wonosobo dimana basecamp itu berada. Tepat pukul 04.00 kami berangkat dengan wajah-wajah penuh keceriaan walaupun udara dijalan sangat dingin kami terjang. Namanya juga ngebet pengen naik Gunung, hehe. Jam 05.00 kami sampai di alun–alun Magelang kamipun istirahat, dan menjalankan kewajiban solat subuh bagi yang menjalaninya.

Setelah beberapa menit kami istirahat kami melanjutkan perjalanan kami jam 05.20 kami melanjutkan perjalanan kami sesampai di Temanggung kami merasa lapar karena perjalanan yang memakan cukup energy kami jam 06.10 kami berhenti disebuah RM Niki. Kami pun memberontak di rumah makan itu saking laparnya mungkin?? setelah kami habis melahap semua pesanan kami, kamipun melanjutkan perjalanan ke arah barat dan 07.15 wib. Kami sampai di basecamp Garung tempat kami mengawali perjalan kepuncak Gunung Sumbing. Ternyata banyak yang sudah mendekam di basecamp. Setelah beberapa jam istirahat jam 10.15 kami bersiap untuk melangkah menuju ketinggian diatas 0 mdpl sebelum berangkat teman kami Bambang mengawali penjelajahan kami dengan doa bersama.

Sarapan pagi

Sarapan pagi

Narsis dulu sebelum berangkat :)

Narsis dulu sebelum berangkat 🙂

Masih acara narsis sebelum berangkat..

Masih acara narsis sebelum berangkat..

Setelah semuanya siap kami berjalan ala pendaki “katanya” dengan bekal komplit kami semangat berjalan menapakan kaki ditanah Sumbing dan sialnya sebelum Pos 1 kami dihadapkan dengan hujan deras kami pun mengeluarkan benteng pertahanan kami yang sering disebut “ponco” kami bergegas mengubah style kami dengan berpakaian lengkap seperti petani, hahaha.

Hujan terus menyerang kami dan sebelum pos 1 juga kami menemukan pemandangan yang jarang didapat dijalur jalur lama. kami menemukan Air terjun yang menurutku bagus sih, tapi gak tau kalau menurut kalaian. Sesampai di Air terjun saya bersyukur hujan telah mengentikan seranganya, kami berhenti untuk istirahat tak lupa juga narsis dengan background Air terjun, hehehe

Jalur awal setelah meninggalkan desa

Jalur awal setelah meninggalkan desa

Niagara ala sumbing

Niagara ala sumbing

peristirahatan setelah diguyur negara air.....

Peristirahatan setelah diguyur negara air…..

Selain itu teman kami juga menyiapkan peralatan memasak air karena kami sangat kedinginan dan butuh kehangatan. Dan setelah 30 menit kami beristirahat kami melanjutkan perjalanan kami, tiba-tiba dalam perjalanan menuju ke Pos 2 salah satu team kami mengalami keram kaki, kami pun membantu dan mengobati keramnya, dan beberapa berdiskusi untuk mencari tempat camp untuk beristirahat karena waktu yang makin sore dan langitpun mulai gelap, kami memutuskan beberapa orang melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat camp sedangkan beberapa tinggal untuk menunggu dan menemani sang korban. Akhirnya aku, Ferry, Arip, Amzah, dan Icha melanjutkan perjalanan mencari camp sedangkan Kribo, sikorban “Bray” dan Bambang menunggu ditempat TKP. Dan tak lama kemudian aku dan teman-teman yang melanjutkan perjalanan melihat salah satu team lain dari Semarang sedang beristirahat memasak dan membuat minum, disitu pula lahanya lumayan untuk tempat camp tanpa basa basi dan sedikit basa basi kami menyapa dan mengobrol tentang perjalanan kali ini, dan saya tidak lama-lama mengucap “mas mbak kalian mau ngecamp disini? Tanya saya pada mereka, dan mereka menjawab gak tau mas kenapa mas? Jawab salah satu team dari Semarang. Dan mengingat teman kami yang sedang menunggu namun kesiksa dibawah sana, saya mengajak teman-teman untuk mendirikan tenda yang kami bawa.

Tenda derita yang kami tempati

Tenda derita yang kami tempati

Setelah semuanya beres dan menunggu teman yang dibawah naik kami membuat minuman dan makan untuk kami makan, dan menunggu teman kami dibawah sana. Setelah menunggu sekitar 1 jam akhiranya sang korban bersama teman lainya datang dengan wajah pucat dan kaki si korban penuh dengan perban yang diikatkan dikakinya sejenis mummy namun hanya dikaki 😀

Makan malam ala kantoran :-s

Makan malam ala kantoran :-s

Setelah kami semua sudah berkumpul dan si korban mulai membaik akhirnya kami beristirahat disini. Hari sudah gelap tepat pukul 18.00 wib kami mulai bercerita dari kami berangkat dan cerita selama perjalanan canda tawa kami temukan disini si korban pun tak merasakan kesakitan karena suasana yang mengobatinya. Sewaktu canda dan tawa tiba-tiba team dari semarang tergiur dengan candaan kami dan mereka juga mendirikan tenda disini yang kami sebut pos bayangan 2 ( karena tempatnya belum sampai pos 2 ), dan parahnya mereka mau ngecamp disini akan tetapi dia mungkin lupa merangkai tenda kamipun membantu untuk merangkainya karena di Gunung kita harus saling membantu, setelah selesai akhirnya kami berkenlan dengan mereka sebut saja Bambang, Dewi, Maya, dan Desta. Kami bergabung dalam kesatuan canda tawa kami dan hawa dingin mulai menusuk dibadan kami semua berniat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan badan yang dingin ini. Beberapa mencari kayu kering (tapi sialnya gara-gara hujan gak ada kayu kering) dan sebagian membuat api dengan spirtus dan sisa-sisa plastic makanan.

Setelah sekian lama berusaha menghidupkan dan Cuma sebentar sebentar hidup apinya, kamipun pasrah dengan keadaan ini. Dengan teman kopi dan rokok kami berusaha membuat keadaan menjadi hangat tapi malam semakin dingin akhirnya kami kembali ketenda derita kami masing-masing, didalam tenda tanpa tersadar salah satu teman kami sebut saja Icha mengalami kedinginan dan kamipun memberikan sleeping bag kami kepadanya, kami semua ragu akan melanjutkan menuju puncak sumbing, akan tetapi 4 orang dari team kami ingin sekali melanjutkan ke puncak akhirnya kami memutuskan 4 orang itu melanjutkan jam 2 pagi karena kondisi juga masih capek akhirnya mereka tidur duluan sedangkan kami yang tinggal ditenda menjaga tenda dan si Icha yang kedinginan, kami mencoba membuat badan kami hangat dengan hisapan rokok dan secangkir kopi panas kami mencoba tidak tidur biarpun malam begitu dingin.

Waktu berlalu jam setengah 01.30 salah satu teman kami Ferry tebangun dari mimpi indahnya / mimpi buruknya  mencari kopi karena mungkin dia merasa kedinginan. Setelah beberapa menit mereka berempat yang niatnya mau nglanjutin akhirnya bangkit semua dari kerajaan mimpi dan bersiap-siap melanjutkan perjalananya, merekapun berangkat tepat pukul 02.10 wib merka meninggalkan camp kami. Setelah semua tak terlihat oleh kasat mata giliran team dari Semarang terbangun dan merekapun ingin melanjutkan perjalananya. Semua packing bekal yang ingin dibawanya dan akupun merasa ingin mengikuti jejak para pendahulu teman kami yang sedang melanjutkan perjalananya menuju puncak akhirnya team dari Semarang dan saya meninggalkan tenda kami dan tersisa 3 orang ditenda itu (Icha, Bray, dan Kribo) mereka tampak sedih karena kami meninggalkan mereka ( maaf aku harus meninggalkan kalian)  akhirnya kami berangkat menyusul 4 teman kami berbekal senter dan logistic.

G.sindoro dari bdan sumbing

G.Sindoro dari badan Sumbing

Dalam perjalanan kami banyak melihat keindahan dini hari dari badan Gunung Sumbing. Akan tetapi kami tak melihat adanya gerak gerik 4 orang teman kami yang dulu beranjak meninggalkan camp, kami pun terus berjalan teriakan panggilan nama 4 orang teman kami tak terbalaskan akhirnya kami hanya berjalan dan tak menghiraukan mereka lagi.

Jam 04.00 kami berhenti sejenak melemaskan otot kaki karena rute yang kami hadapi semakin mengerikan ditambah lagi udara makin dingin dan oksigen semakin menipis. Sekitar seperempat jam kami istirahat kami melanjutkan perjlanan kami langkah demi langkah kami melaju langit yang tadinya gelap semakin terlihat cerah kami pun berharap agar mendapatkan sunrise. Jam 05.00 kami sampai di PESTAN keadaan disana sudah rame ternyata banyak pendaki dari berbagai daerah bermalam di PESTAN tersebut terlihat wajah-wajah orang bangun tidur dan aktivitas memasak ditenda mereka masing-masing. Kami mencari 4 orang teman kami ternyata gak ketemu juga selain langit sudah cerah kami pun berhenti berisitirhat di sini. Kami berniat menunggu teman kami turun dari puncak kami pun bernarsis ria disini biarpun gak dapet sunrise tetapi Gunung Sindoro juga tak kalah menariknya, beberapa foto narsis kami lakukan tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 08.30 dan puncak Sumbing tertutup oleh kabut tebal.

Narsis lagi di PESTAN

Narsis lagi di PESTAN

keindahan G Sindoro dari PESTAN

Keindahan G Sindoro dari PESTAN

PESTAN !!!

PESTAN !!!

Menunggu 4 teman yang sedang menuju puncak

Menunggu 4 teman yang sedang menuju puncak

sisa sisa penduduk PESTAN malam itu...

Sisa-sisa penduduk PESTAN malam itu…

Sekumpulan embun

Sekumpulan embun

Sekian lama menunggu sambil foto-foto 4 teman kami tak kunjung turun sedangkan kabut dari atas puncak semakin mendekati kami akhirnya jam 09.05 kami meniatkan diri meninggalkan mereka mengingat mereka juga telah meninggalkan camp kami tadi. Hahahha ( balas dendam). Saya pun turun dari PESTAN bersama team dari Semarang dan kembali ke camp kami di Pos bayangan 2.

Akhirnya setelah berjalan turun sekitar 1 jam saya sampai ditenda derita kami, dan enaknya lagi ternyata Icha, Kribo dan Bray yang kami tinggalkan ditenda derita kami mereka sudah menyiapkan menu makanan untuk saya dan 4 teman lainya yang masih diatas. Beberapa jam mereka gak turun juga akhirnya team dari Semarang berniat untuk kembali ke basecamp, mereka membereskan tempat tenda dan peralatan lainya akhirnya jam 10.15 mereka pamitan dengan meninggalkan satu foto bareng.

sikorban kakai keram < :D dan penunggu tenda 01

Si korban kaki keram < 😀 dan penunggu tenda 01

si korban kedinginan, hihihihih seklaigus penunggu tenda 02

Si korban kedinginan, hihihihih seklaigus penunggu tenda 02

penunggu tenda 03

Penunggu tenda 03

salam perpisahan untuk team dari semarang

Salam perpisahan untuk team dari semarang

Setelah mereka turun ke bascamp hanya kami berempat menunggu para teman kami turun, menunggu itu menjenuhkan “kata orang yang gak sabar’ kami pun tidur tiduran didalam tenda samapai kami tidur beneran, dan sialnya lagi hujan badai yang ditemani petir mengguyur G.Sumbing dan sekitarnya kami terbangun dan sambil menengok ke luar berharap teman kami segera datang, banyak dari team-team negara lain yang melewati camp kami dan akhirnya sang pemberani 4 teman kami datang dengan pakaian basah kuyup.

Setelah beberapa jam menunggu hujan akhirnya hujan reda dan kami pun menikmati hujan reda dengan membuat kopi dan tak lupa rokok yang selalu mengerti kami. Jam 17.30 kami bersiap turun ke basecamp niatnya sih jam 14.00 tapi ada yang nitip orang yang sedang keram kakinya juga yang menunggu team SAR menjemput akhirnya kami terlambat dari waktu yang telah ditentukan untuk turun. “ gak papa namanya juga harus saling membantu” #berharap

Kami turun melewati gelap menuju basecamp, dengan minimnya senter yang kami bawa karena sudah banyak yang habis baterainya. Kami pun pelan-pelan menuruni rute kembali ke basecamp. Jam 21.20 akhirnya kami sampai di basecamp tempat awal mula kami menapakan kaki ditanah Sumbing. Puji syukur pada Tuhan karena kami semua dalam keadaan baik saat itu dan terima kasih untuk alam atas keindahan yang selalu menemani perjalanan kami.

Terima kasih untuk alam yang kau berikan..

Terima kasih untuk alam yang kau berikan..

Semoga alam dan makhluknya senantiasa saling menjaga…

Advertisements

One thought on “Menapakkan kaki di G.Sumbing

  1. Sama juga mas kendy, bila rombongan mas kendy ada yang kram, Kalau temen saya malah terjungkal di puncak. Alhasil, kita berjalam turun super pelan. Banyak banget pelajaran yang kami dapatkan pas naik turun kena badai terus…ahaaha salam pendaki mas kendy 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s