Nol MDPL di Bawah Kami

Pantai Jungwok

Pantai Jungwok

Pantai. Tujuan kami kali ini, namun tetap saja semuanya tanpa rencana seperti jalan-jalan kami sebelumnya. Maklumlah, namanya juga Berangkaaat.! Hahahaha… Tempat yang ingin kami kunjungi tersebut bernama Pantai Jungwok yang berada di tanah Gunung Kidul.

Awalnya jalan-jalan ini hanya akan dilakukan oleh saya dan dua teman lainnya, Nanda & Sendy. Namun ternyata personil bertambah lagi tiga orang yaitu Ica, Guntur, & Ikhsan. Dengan modal transportasi tiga buah sepeda motor matic pribadi dan sedikit informasi tentang Pantai Jungwok kami berenam pun yakin untuk berangkat dan camping selama 2 hari 1 malam ditempat tersebut.

Siang itu sekitar pukul 13.00 dihari Sabtu tanggal 3 Mei 2014, peralatan dan logistik yang kami butuhkan telah selesai kami siapkan. Namun setelah mengecek lagi dan siap untuk berangkat ternyata hujan turun dengan deras yang padahal siang itu langit masih terlihat cerah. Kami lantas memasang wajah yang sedikit sendu, hahaha… Apakah kami tak diijinkan untuk berangkat?

Sekitar 30 menit kemudian hujan telah benar-benar berhenti, lalu kamipun memulai perjalanan menuju Pantai Jungwok. Memang, kami sengaja berangkat pada siang hari dengan perthitungan waktu 4 jam sudah berada di TKP, sebab kami sendiri belum ada yang pernah ke tempat tersebut kecuali Ica namun ia pun lupa jalan menuju kesana. Dengan sedikit info dari internet dan beberapa teman, pantai tersebut letaknya cukup jauh dari Jogja yaitu di sebelah Tenggara Pantai Wediombo atau lebih tepatnya di desa Jepitu Kecamatan Girisubo Kabupaten Gunung Kidul.

Panas yang menyengat menyertai perjalanan kami, namun tetap saja sekali berangkat ya berangkat Hahaha… Terlepas dari itu ketika baru memasuki kecamatan Wonosari kami berpapasan dengan salah seorang warga setempat yang mengendarai kendaraan roda dua sambil berteriak “ada razia mas”. Kami pun lantas berhenti di pinggiran jalan, dan saling pandang satu sama lain. Ternyata kendaraan yang kami gunakan ketiganya sama-sama bermasalah alias belum bayar pajak. Sedikit panik kami memutar jalan melewati Kota Wonosari dan berharap tidak bertemu bapak polantas.

Tidak selesai disitu, sekitar 4 kilometer kemudian tepat ketika kami berhenti di sebuah lampu merah, giliran Sendy yang berteriak “ban ku bocor, tambal ban dimana?” Hahahaha.. Ingin saja saya jawab “menurut lu?” dia bertanya seakan-akan salah satu dari kami adalah akamsi (anak kampung sini) hahaha.. Untungnya tidak jauh dari pemberhentian, Guntur dan Ikhsan menemukan sebuah bengkel motor, jadi masalah pun teratasi.

Selesai? Belum, sekitar 30 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan sambil melihat arah penunjuk jalan menuju Pantai Wediombo. Mengapa Wediombo? Bukankan kami ingin pergi ke Pantai Jungwok. Jadi begini, jika kita mencari arah menuju Pantai Jungwok maka kita takkan menemukannya sebab pantai tersebut dapat dikatakan sangat jarang sekali dan bahkan hampir tidak ada pengunjungnya. Menurut info, Pantai Jungwok berdekatan sekali dengan Pantai Wediombo dan bahkan satu arah jalan. Jadi otomatis jika kita menemukan Pantai Wediombo maka kita juga akan menemukan arah ke Pantai Jungwok.

Setelah melewati jalan yang berliku tajam, tanjakan, serta turunan. Kami tiba di sebuah pos yang adalah loket tiket masuk Pantai Wediombo, per orang dikenai tarif sebesar Rp. 5000,- di loket tersebut kami sempat bertanya arah menuju pantai Jungwok. Si penjaga loket pun memberikan arahan dengan mengatakan bahwa kami bisa mengikuti jalan menuju Pantai Wediombo dan sekitar setengah kilometer di sebelah kiri jalan akan ada petunjuk jalan yang bertuliskan Pantai Jungwok.

Tidak sesulit yang kami pikirkan, jalan menuju Pantai Jungwok sangat mudah sekali untuk ditemukan. Kondisi tidak terlalu buruk dan masih bisa dilewati kendaraan roda dua, walaupun tak sebagus jalan menuju pantai-pantai lain seperti Baron, Indrayanti atau Tepus namun setidaknya tak separah jalan menuju Pantai Poktunggal.

Kondisi jalan menuju Pantai Jungwok

Kondisi jalan menuju Pantai Jungwok

Kondisi jalan menuju Pantai Jungwok

Orang ketiga yang selalu tabah 🙂

Kondisi jalan menuju Pantai Jungwok

Tidak terlalu buruk bukan?

Kondisi jalan menuju Pantai Jungwok

Pantai Jungwok, sedikit

Tepat pukul 17.30 kami tiba di lokasi, agak sedikit gelap namun tak menutupi keindahan pantai tersebut yang dapat dikatakan bahwa Jungwok adalah pantai yang cukup mungil, apalagi ditambah keberadaan pulau kecil di bibir pantai yang menjadikannya semakin mempesona.

Ternyata selain kami, disana sudah ada dua buah tenda lain yang berdiri. Sepertinya mereka juga akan bermalam di Pantai tersebut. Kami lalu menyusuri sekitar yang dirasa cukup nyaman untuk mendirikan tenda karena jika salah pilih tempat bisa-bisa tenda kami kemasukan air laut saat sedang pasang. Setengah jam bukan waktu yang lama untuk kami mendirikan dua buah tenda dan menyusun peralatan lain.

Sepi dan tenang adalah kesan pertam kami saat berada disana, tempat itu memang benar-benar cocok untuk dipakai sebagai tempat camping daripada sekedar jalan-jalan mengunjungi pantai pada hari libur. Sebab pantai tersebut tergolong kecil dan kalaupun tidak ada org lain yang berkemah disana, kami rasa bisa dikatakan itu sebagai pantai pribadi kami.

Baru sebentar kami menyalakan api unggun dan menikmati ketenangan itu, kemudian datanglah segerombolan mahasiswa dari salah satu universitas besar di Jogja. Di tengok dari jumlah mereka, shiiiittt…!!!!!!!! Orang-orang yang akan mengadakan makrab ternyata, hahahaha… Riuh dan ramai sebentar lagi akan terjadi di tempat ini.

Tepat seperti yang kami pikirkan, teriakan mulai berhadiran satu-satu, sunyi yang tadinya menjadi teman baik kami telah beranjak pergi karena datangnya gerombolan itu. Hahahaha.. apa boleh buat? Bukan salah bunda mengandung, salahkan bapak yang punya burung. 😀

Obrolan hangat mulai terjadi diantara kami yang sedang duduk mengelilingi api unggun, lalu tiba-tiba seorang pemuda datang yang ternyata dari keompok makrab tersebut, sepertinya panitia. Ia pun bertanya “boleh minta bara apinya satu aja mas? Buat kami bikin api unggun”. Oh, tentu saja, satu bara api yang kami berikan takkan mematikan api unggun kami. Namun bukan itu sebabnya, bukankah kita memang harus selalu berbagi? Tak masalah bagi kami.

Setelah bara api kami berikan belum sempat mereka beranjak pergi, Guntur bertanya “boleh pinjam gitarnya mas? Sebentar aja”. Mereka pun menjawab “boleh mas, tapi bentar lagi mau dipake buat pentas seni, gimana?” hahahaha… Itu sebenernya mau minjemin atau gak sih mas? “yaudah kami pinjam dulu, nanti kalo mau dipake ya kami balikin gak apa-apa kan mas?” ucap Sendy. Lantas mereka mengiyakan dan meminjamkan gitar tersebut pada kami.

Kami pun tertawa, nyanyian mulai kami lantunkan satu persatu. Dari lagu yang setengah-setengah sampai lagu yang dua setengah kali tak juga berhenti. Saya pun bingung maksudnya apa, lalu saya berucap “si tua gw bawa sini ya?” yang lain spontan berteriak “siaaaappp!!!!!!!!!!”. Sepertinya mereka menangkap kode dari saya, ‘si tua’ itu adalah sebutan untuk minuman yang kita anggap saja susu kedelai (sebab warnanya seputih susu) dari Kalimantan. You know lah what I mean.. Hahahaha, udah sama-sama gede kan? 😉

Kami yang mengelilingi api unggun atau api unggun yang berada di tengah kami. Sama saja. :)

Kami yang mengelilingi api unggun atau api unggun yang berada di tengah kami. Sama saja. 🙂

Dari kiri; Guntur, Ihksan, saya, Nanda (dibawah), Sendy (diatas), Ica.

Dari kiri; Guntur, Ikhsan, saya, Nanda (dibawah), Sendy (diatas), Ica.

Malam kian naik pelan-pelan, tak kami pikirkan lagi sekitar. Sampai si Nanda berdiri di depan api unggun sambil membawa batang kayu yang ia maksudkan sebagai mic, maklumlah ia pikir ia sedang konser tunggal. Riuh tawa beredar diantara kami yang mengelilingi api unggun, serunya kelompok kami malam itu sepertinya melebihi mereka yang sedang makrab sampai-sampai gitar yang tadi kami pinjampun sepertinya enggan untuk mereka ambil, sebab kami lihat mereka bernyanyi (saat pentas seni) hanya menggunakan zimbe tanpa gitar. Hmmm…

Begitu riuh yang kami lakukan, semuanya serba tertawa. Hingga pagi tiba kemudian kami mandi dan mandi melulu. Tak peduli siang mulai bergerak dan matahari begitu menyengat. Rasanya sangat rugi  jika bermalam di pantai namun tidak bermain bersama ombak apalagi jika ombak di Pantai Jungwok ini tergolong besar.

Pagi merayap pelan, sangat pelan rasanya.

Pagi merayap pelan, sangat pelan rasanya.

Kami berenam tidur disini. Namun jangan terpaku tenda, tidur di pasir pantai juga menyenangkan.

Kami berenam tidur disini. Namun jangan terpaku tenda, tidur di pasir pantai juga menyenangkan.

Beberapa teman ada yang memutuskan untuk bermalas-malasan dan sebagian lagi memutuskan untuk masih bermain dengan ombak. Maklumlah, kami sedang jauh dari kota. Menjadi apa saja ditempat ini cukup menyenangkan. Dan jika kalian memutuskan berkunjung ke Pantai Jungwok, jangan harap bisa sibuk dengan smartphone kalian sebab disini sama sekali tak ada sinyal. Itu bukan masalah, karena saat berada di alam kalian takkan membutuhkan gadget kecuali untuk memotret dan mengabadikan.

Dan pada siang hari khusus untuk hari Sabtu dan Minggu kalian tidak usah ketakutan untuk kehabisan logistik, disini ada dua buah warung yang memang khusus buka di hari tersebut. Mereka menjual makanan serta minuman, dan jangan lupa untuk mencicipi pisang gorengnya. Hahahaha.. Kebetulan saya sendiri penggemar makanan berbahan dasar pisang 😀 . “Tapi selain Sabtu & Minggu, tidak ada warung yang buka disini mas” ucap ibu-ibu yang memiliki warung di pinggiran Pantai Jungwok tersebut.

Pulau mungil di bibir pantai

Pulau mungil di bibir pantai

Kami, lagi.

Kami, lagi.

Masih berfikir ingin kesini?

Masih berfikir ingin kesini?

Benda ini juga ikut berperan.

Benda ini juga ikut berperan.

Langit biru di atas kami, dan kebebasan di dalam kami.

Langit biru di atas kami, dan kebebasan di dalam kami.

Mungil bukan?

Mungil bukan?

Tempat yang patut dimasukkan list untuk dikunjungi

Tempat yang patut dimasukkan list untuk dikunjungi

Seharian kami habiskan dengan memanjakan diri di pasir pantai serta terpaan ombak yang membasahkan. Hingga waktu menunjukkan pukul satu, angka dimana kami harus menyiapkan segalanya dan kembali pulang. Memang, waktu selalu tepat janji untuk perkara tepat dan menepati. Taka da keraguan akan hal itu, dan tak ada tawar menawar lagi yang dapat diutarakan. Apa boleh buat? Namun perjalanan kali ini sangat menyenangkan bahkan kelewat menyenangkan.

Satu jam kami membereskan barang-barang bawaan. Melipat tenda, mengumpulkan sampah, mengucapkan syukur. Lalu kamipun siap untuk berangkat pulang. Hmmm… Saya lihat wajah mereka satu-persatu, saya yakin mereka sepertinya malas menyentuh kota. Tapi ya begitulah, pulang pasti bersahutan dengan pergi. Terimakasih Tuhan atas Semesta.

Sampai bertemu kembali, kembali...

Sampai bertemu kembali, kembali…

Advertisements

4 thoughts on “Nol MDPL di Bawah Kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s