Dari puncak ke bibir samudera

Seperti biasa begadang menjadi rutinitas yang tak terlewatkan, dan Warkop DKI menjadi teman begadang dimalam itu. Tidak terasa pagi akan segera datang karena terlalu sibuk dibuat tertawa oleh Dono, Kasino dan Indro. Tiba – tiba terdengar sebuah ajakan dari teman, sebut saja Diska. Ajakan yang mungkin timbul karena kebosanan didalam kos dan mata yang tak kunjung mau memejam. “Ke Nglanggeran yok” ucap si Diska, Tanpa berfikir panjang aku jawab “ayok”. Benar – benar spontan dan tak terancanakan sebelumnya.

Kamipun mulai packing barang-barang yang mau dibawa, setelah selesai packing sekitar pukul 4.30 kami meluncur menembus dinginya udara pagi. Gerimis menyapa kami disepanjang perjalanan sampai akhirnya setelah memasuki Patuk hujan yang secara tiba – tiba turun dengan derasnya. Tanpa berhenti kami tetap menerobos derasnya hujan sebelum kami berhenti didepan sebuah warung untuk menutup tas dengan raincover dan kembali melanjutkan perjalanan kami ke Gunung Api Purba di Nglanggeran.

Brrrrr… Hujan, dingin dan kabut begitu kompak menemani kami sebelum akhirnya sampai dilokasi yang menjadi tujuan kami. Parkir motor, dan langsung bergegas menuju toilet untuk berteduh meskipun sudah basah kuyup. Sembari menunggu hujan reda, kami mulai dengan rokok yang bersambung dengan obrolan – obrolan ringan didinginya pagi itu.

Setelah dirasa hujan reda kami mulai bersiap – siap untuk melangkah menuju Puncak Gunung Api Purba. Terlebih dahulu kami membayar loket masuk sebesar Rp.12.000 untuk dua orang dan sudah dengan biaya parkir. Karena niatnya kami tidak ingin dikejar – kejar waktu untuk sesegera mungkin sampai di puncak, jadi kami melangkah dan berjalan dengan pelan sambil menikmati biasan cahaya mentari yang sudah mulai menampakkan sosoknya. Obrolan – obrolan ringan menjadi teman kami diperjalanan menuju puncak.

IMG_8695

View dari atas bebatuan terowongan sempit

Kakipun kembali melangkah menyusuri tanah basah dan jalan setapak yang menjadi arah kami untuk sampai kepuncak. Begitu damai dan tenangnya suasana seperti ini, begitu indahnya alam Indonesia ini. Pepohonan yang rindang dengan daun – daun yang yang masih basah, kicauan burung – burung dan desahan nafas kami yang mulai nampak lelah sebelum akhirnya kita sampai dipos 1 untuk beristirahat sebentar. Menikmati keindaha semesta yang begitu agung, udara yang begitu sejuk. Saat – saat seperti ini adalah sebuah kenikmatan tanpa adanya kebisingan dan rutinitas yang ada ketika berada dikota.

IMG_8699

Persawahan yang indah

Setelah kami rasa cukup untuk beristirahat segera kami berjalan lagi melangkah menyusuri jalanan setapak yang licin karena hujan tadi. Langkah demi langkah, keringat yang mulai bercucuran keluar, udara dingin yang masih setia menemani setiap langkah kami. Pagi itu nampak sepi, hanya beberapa orang yang berpapasan dengan kami saat mereka hendak turun. Sapaan dan senyuman yang yang terlontar dari kami maupun mereka terasa hangat meskipun tak saling mengenal. Tak lama lagi sampai di puncak, ayo semangat…haha… meski belum sarapan dan bahkan belum tidur tak menghentikan langkah kami untuk tetap melangkah. Dan akhirnya sampailah dipuncak, wow… sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan pepohonan yang diselimuti kabut tipis.

IMG_8708

Bukit bebatuan

IMG_8716

Gardu pandang di puncak

IMG_8710

Berasa empuk yak?

Puncak oi… Setelah sampai kami mulai mencari tempat untuk bersantai ria sembari menikmati keindahan semesta. Angin sepoi – sepoi, kabut yang datang dan pergi menambah rasa tenang dan nyaman. Melepaskan dahaga dengan air mineral, menyumutkan api untuk membakar rokok menjadi ritual kami selanjutnya. Percakapan yang kami mulai dari tentang ketenangan berada dialam bebas tanpa adanya rutinitas yang menunggu dan kebisingan kota yang biasanya kami nikamti. Berlanjut dengan obrolan santai yang memacu segala macam imajinasi tentang alam, orang – orang terkasih, sampai kelucuan dan kekonyolan masa kecil tak luput dari obrolan dipagi itu.

IMG_8721

Nampak embung dari puncak

IMG_8738

Gear

Masih belum beranjak, karena kami benar – benar masih ingin menikmati keindahan semesta ini. Sebelum kata ajakan keluar dari si Diska “Pantai yuk, masih kuat nggak?”. Seperti biasa jawaban yang spontan namun pasti “Ayok… Siap”. Setelah dirasa cukup kami mulai berkemas dan mulai untuk turun. Obrolan yang pasti ada disetiap langkah kami, rindangnya pohon yang terlihat indah karena bias cahaya mentari, basah ditanah yang mulai memudar. Bunga cantik dengan lebah yang sedang menuai sari – sari dari mahkota bunga yang terlihat dipinggir jalan setapak yang kami coba abadikan.

IMG_8748

Namanya bunga apa ya ini?

Perjalanan turun itu lebih berat dibanding saat naik. Tapi tetap semgangat karena masih ada tempat yang akan kami tuju. Setelah sampai diparkiran kami kembali menuju toilet untuk membersihkan badan dan beristirahat sejenak. Selesai bersih – bersih dan beristirahat segera kami meluncur menuju Embung Nglanggeran. Jalan menuju Embung yang masih belum teraspal membuat laju motor yang kami naikki berjalan pelan dan sangat berhati – hati. Sebelum sampai di Embung kita melewati pos loket retribusi untuk bisa masuk, hanya dengan Rp.5.000 untuk berdua yang sudah termasuk biaya parkir. Akhirnya sampai juga, langsung menuju ketempat parkir dan beranjak menuju embung. Wah… anak tangga? Naik lagi berarti. Setelah lumanyan membuat nafas kami menjadi berat akhirnya sampailah kami di Embung Nglanggeran.

IMG_8764

Embung dan perbukitan yang membelakangi

IMG_8778

Embung dan bukit bebatuan

Kembali beristirahat dan menikmati lagi keindahan alam ini, meski Embung ini adalah Embung buatan tapi tetap terlihat indah. Hari itu mulai siang, terik yang mulai terasa. Kami berjalan memutari Embung sambil mencari obyek – obyek yang akan kami abadikan.

WP_20140328_10_16_10_Panorama

Panorama

Tak begitu lama kami berada di Embung karena sudah siang dan kami memutuskan untuk berangkat menuju Pantai Pok tunggal di Gunung Kidul. Perjalanan kami mulai lagi menuju keindahan ditempat yang berbeda. Melewati Jl.Raya Wonosari yang begitu ramai kendaran membuat kami tetap hati – hati. Setelah memasuki Wonosari kami memutuskan beristirahat di depan minimarket karena bertepatan dengan adzan dzuhur. Perut terasa lapar karena memang sebelumnya kami belum makan, tepat didepan minimarket ada stand penjual roti dan risoles. Kamipun mengganjal rasa lapar perut kami dengan risoles isi pisang.

2014-03-28 11.37.19

Kotak isi risoles penunda lapar

Setelah istirahat dirasa cukup dan perutpun sudah terisi kami langsung melanjutkan perjalanan menuju pantai. Diperjalanan kami disuguhi panorama bukit – bukit bebatuan yang menjulang tinggi dikelilingi hutan. Perjalanan yang menyenangkan meski jalan yang dilalui berliku – liku yang kada curam. Sekitar 45 menit perjalanan sebelum sampai di pantai Pok tunggal. Saat memasuki jalan yang masih berupa bebatuan yang merupakanjalan menuju ke Pantai Pok tunggal. Harus berhati – hati karena jalan yang dilewati lumayan terjal dan panjang.

Deru ombak mulai berbisik di telinga dan nampak dilihat mata, angin sepoi pantai yang menghembus. Sampai juga akhirnya kami di pantai Pok tunggal. Setelah memarkirkan motor kami berjalan menyusuri jalan dipinngir pantai sebelum mata tertuju pada bukit yang menjulang tinggi dipinggir pantai, terdapat pula beberapa gazebo untuk tempat berteduh diatas bukit. Kami segera melangkah menuju atas bukit, wow anak tangga lagi sob, naik lagi kita… celetukku pada si Diska.

Setelah anak tangga terlewati giliran jembatan bambu yang menyambungkan ke bukit yang kami tuju. Dengan hati – hati kami menapakkan kaki dijembatan bambu tersebut karena lumayan tinggi dengan daratan dibawah. Sebelum sampai kami menjumpai pagar dengan beberapa orang yang berjaga dan sebuah kotak bertuliskan “isi seiklasnya”. Mungkin uang itu untuk mereka yang memperbaiki jembatan yang tadi kami lewati. Kurogoh kantong celanaku dan kuambil uang lalu kumasukkan kedalam kotak tersebut. Sapaan dan senyuman yang kembali terjadi meski tak saling mengenal dengan beberapa orang yang berjaga dipagar tempat masuk ke bukit.

Sampai dibukit kami langsung menuju sebuah gazebo yang lebih besar dibanding dengan yang lainya, karena juga berada diposisi yang pas untuk menikmati luasnya samudera Hindia. Sampai digazebo kami segera meregangkan otot – otot yang dari tadi kencang. Rasanya ingin merebahkan badan untuk beristirahat, tapi datanglah ibu – ibu yang ternyata penjaga gazebo tersebut dan meminta uang sewa sebesar Rp.20.000. Setelah dibayar lalu ibu itu beranjak turun, yang terpikir berarti stiap hari ibu itu menunggu diatas bukit seharian untuk penyewaan gazebo sebesar dua puluh ribu rupiah. Karena cuma gazebo yang menjadi tempat berteduh kami satu – satunya yang disewakan.

Diska berteduh digazebo

Diska berteduh di gazebo

Setelah ibu penjaga gazebo berlalu kamipun mulai beristirahat sembari menikmati luasnya samudera didepan mata. Merebahkan tubuh diatas bangku bambu, menikmati seemilir angin yang seakan berbisik untuk memejamkan mata. Karena kami memang malamnya belum tidur sama sekali. Saat menengok keara Diska nampak ia sudah tertidur pulas. Diatas bukit benar – benar sepi, ya terasa seperti milik pribadi, hahaha. Tak lama setelah Diska tidur akupun menyusul untuk sejenak memejamkan mata. Saat tertidur keseringan terbangun karena takutnya ada orang yang tiba – tiba datang, karena semua barang bawaan kami taruh diatas meja gazebo sedang kami tertidur semua.

Setelah sekitar dua jam tidur, aku terbangun dan mengamati keadaan sekitar, namapak si Diska yang masih pulas tertidur, barang bawaan kami yang masih lengkap semua. Beranjaklah aku dari bangku bambu untuk duduk dibibir tebing menikmati angin yang semilir diatas samudera. Tak lama si Diska bangun dan menghampiriku untuk mengobrol. “Gila ya… kita kepantai cuma buat tidur doang” celetuknya, yang kujawab “iya, keren hari ini, tadi kayak puncak pribadi, sekarang pantai pribadi” hahaha… gelak tawa kami diatas samudera.

IMG_8792

Ombak pantai pok tunggal dan luasnya samudera Hindia

Tebing disamping gazebo
IMG_8815

Bibir pantai nampak dari atas bukit

Senja segera datang dan kami memutuskan untuk segera berkemas dan pulang. “Ahh… pulang, kota, bising, rutinitas, segudang masalah” ucap si Diska. Rasanya memang tak ingin beranjak pulang, tapi apa daya keadaan yang membuat kita untuk pulang. Selesai berkemas kami turun dari bukit berjalan menyusuri bibir pantai sebelum sampai parkiran. Sampai diparkiran, bayar biaya parkir dan perjalan pulangpun kami lalui. Terimakasih semesta 🙂

Advertisements

7 thoughts on “Dari puncak ke bibir samudera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s